Kamis, 27 Juli 2017

JENDERAL HOEGENG DINOBATKAN SEBAGAI POLISI JUJUR SEDUNIA

JENDERAL HOEGENG DINOBATKAN SEBAGAI POLISI JUJUR SEDUNIA

Hoegeng Iman Santoso. Inilah polisi yang disebut sebagai contoh jenderal jujur yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Kapolri yang patut menjadi teladan bagi seluruh anggota Korps Bhayangkara Bahkan, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memiliki anekdot: hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Mereka yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

Dan kini, Kapolri ke-5, almarhum Hoegeng mendapat rekor MURI sebagai polisi paling jujur sedunia. Penghargaan itu langsung diberikan oleh Direktur MURI Jaya Suprana kepada istri Hoegeng, Merry Roeslani di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis 5 Maret 2015.
Wanita berusia 90 tahun itu tak kuasa menahan haru atas pemberian rekor penghargaan yang didapat suaminya meski telah tiada. Tampak matanya berkaca-kaca saat menerima piagam dari MURI.

Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, pada 14 Oktober 1921, tak hanya dikenal jujur. Hoegeng juga tak segan turun ke lapangan melaksanakan tugas sebagai polisi. Meski berpangkat jenderal, dia tak segan turun ke jalan mengatur arus lalulintas.

Sejak menjadi perwira polisi di Medan, Hoegeng terkenal karena keberanian dan kejujurannya. Dia tak sudi menerima suap sepeser pun. Barang-barang hadiah pemberian penjudi dilemparkannya keluar rumah.

Ya begitulah sosok Hoegeng. Usai pensiun sekali pun meski pernah menjabat sebagai Kapolri, ia tidak memiliki rumah dan kendaraan pribadi.

Rabu, 26 Juli 2017

Anak suka membantah

ANAKKU SUKA MEMBANTAH

Jadi orang tua itu memang kelas kehidupan yang maha dahsyat. Apalagi, kalau anak mulai masuk pada fase: suka membantah.

Diomongin pelan-pelan, macam masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Lama-lama emosi juga kan jadinya? Begitu emosi sudah nggak tertahankan dan oktaf mulai meninggi, eeeeh galakan dia. Keseeeeeel deh jadinya. Kalau situasinya begini terus, rasa kesalpun berubah menjadi stress!!!

Eits, jangan stress dulu, Parents! Ada kabar gembira nih!
Ternyata, membantah itu adalah bagian penting dari proses kedewasaan mental anak. Justru, pada proses ini musti kita dampingi agar bisa berkembang menjadi hal positif.

Tau nggak sih kenapa Si Kecil yang tadinya penurut terus berubah jadi ngeyel? Ini tandanya anak sudah tau apa yang ia mau dan berusaha mewujudkannya. Selain itu, anak juga mulai punya kemampuan untuk mengungkapkann pendapatnya sendiri walaupun ia tahu bahwa ini beresiko membuat orang lain kesal.
Kalau kita mau membuka diri untuk berpikir, ini pertanda bahwa anak kita adalah ciri pemimpin masa depan, lho! Anak yang tau apa yang dimau dan berani mengungkapkan pendapatnya adalah anak-anak yang berani mengambil keputusannya sendiri. Setuju?

Yah, namanya juga anak-anak yang masih dalam proses belajar, tentu cara-cara yang digunakan masih sederhana dan belum sempurna, karena itulah terlihat ngeyel dan seringkali membuat orang lain jadi kesal.

Nah, justru disini peran orang tua, nih. Mendampingi Si Kecil sehingga nantinya ia bisa mengungkapkan keinginannya dengan cara-cara elegan dan sanggup bersepakat dengan orang lain agar keinginannya nggak berbenturan dengan kepentingan orang lain. Ini memang bukan proses yang cepat dan mudah. Butuh kesabaran ekstra dan konsistensi yang luar biasa dari kita sebagai orang tua untuk sukses mendampingi anak menjadi generasi super! Yah, namanya juga mendampingi generasi super, usahanya juga musti super, kan? Hehehe…

Mulai saja dari hal kecil. Misalnya redam rasa kesal kita atas ngeyelnya, berikan kesempatan mereka untuk berbicara dan berikan waktu untuk mendengarkan pedapatnya terlebih dahulu. Jangan memberikan perintah pada Si Kecil, berikan pilihan-pilihan agar ia bisa memilih sendiri. Misalnya: Mau kerjakan PR sekarang dan ikut bunda ke mall, atau mau kerjakan PR nanti tapi nggak bisa ikut bunda ke mall? Jalin komunikasi yang baik, dan turunkan nada bicara kita agar ia meniru cara kita dalam berkomunikasi.

Nah, setiap memulai tahun ajaran baru seperti sekarang, biasanya salah satu pesan yang saya sampaikan pada wali kelas anak-anak adalah: harap bersabar pada anak-anak saya yang mungkin dengan lantang akan menentang pendapat guru di kelas apabila tidak sependapat dengannya, karena di rumah kami terbiasa mendengarkan pendapat-pendapatnya. Untungnya, saya mendapat sambutan positif dari wali kelas Mima, anak pertama saya yang sekarang berusia 14 tahun. Berkat sifat “ngeyel”-nya, kini mima menjabat sebagai wakil ketua OSIS karena dianggap berani bicara mengungkapkan pendapatnya. Akhirnya, saya dan guru di sekolah sepakat untuk mendampingi Mima agar memiliki strategi yang lebih baik dalam mengungkapkan pendapatnya.

So, let’s think smart, Parents!

--Mona Ratuliu

sumber: http://monaratuliu.com/index.php/parents/248-anakku-suka-membantah

Senin, 24 Juli 2017

ADVERSITY QUOTIENT

SUATU SAAT KITA AKAN MENINGGALKAN MEREKA.  JANGAN MAINKAN SEMUA PERAN

By: Elly Risman
(Senior Psikolog dan Konsultan, UI)

Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi yang mana nanti, maka izinkanlah dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri .

Jangan memainkan semua peran,
ya jadi ibu,
ya jadi koki,
ya jadi tukang cuci.

ya jadi ayah,
ya jadi supir,
ya jadi tukang ledeng,

Anda bukan anggota tim SAR!
Anak anda tidak dalam keadaan bahaya.
Tidak ada sinyal S.O.S!
Jangan selalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya.

Anak mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa nyambung menjadi satu, "Sini...Ayah bantu!".

Tutup botol minum sedikit susah dibuka, "Sini...Mama saja".

Tali sepatu sulit diikat, "Sini...Ayah ikatkan".

Kecipratan sedikit minyak
"Sudah sini, Mama aja yang masak".

Kapan anaknya bisa?

Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana,
Apa yang terjadi ketika bencana benar-benar datang?

Berikan anak-anak kesempatan untuk menemukan solusi mereka sendiri.

Kemampuan menangani stress,
Menyelesaikan masalah,
dan mencari solusi,
merupakan keterampilan/skill yang wajib dimiliki.

Dan skill ini harus dilatih untuk bisa terampil,
Skill ini tidak akan muncul begitu saja hanya dengan simsalabim!

Kemampuan menyelesaikan masalah dan bertahan dalam kesulitan tanpa menyerah bisa berdampak sampai puluhan tahun ke depan.

Bukan saja bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi,
tapi juga lulus melewati ujian badai pernikahan dan kehidupannya kelak.

Tampaknya sepele sekarang..
Secara apalah salahnya kita bantu anak?

Tapi jika anda segera bergegas menyelamatkannya dari segala kesulitan, dia akan menjadi ringkih dan mudah layu.

Sakit sedikit, mengeluh.
Berantem sedikit, minta cerai.
Masalah sedikit, jadi gila.

Jika anda menghabiskan banyak waktu, perhatian, dan uang untuk IQ nya, maka habiskan pula hal yang sama untuk AQ nya.

AQ?
Apa itu?
ADVERSITY QUOTIENT

Menurut Paul G. Stoltz,
AQ adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

Bukankah kecerdasan ini lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?

Perasaan mampu melewati ujian itu luar biasa nikmatnya.
Bisa menyelesaikan masalah, mulai dari hal yang sederhana sampai yang sulit, membuat diri semakin percaya bahwa meminta tolong hanya dilakukan ketika kita benar-benar tidak sanggup lagi.

So, izinkanlah anak Anda melewati kesulitan hidup..

Tidak masalah anak mengalami sedikit luka,
sedikit menangis,
sedikit kecewa,
sedikit telat,
dan sedikit kehujanan.

Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan.
Ajari mereka menangani frustrasi.

Kalau anda selalu jadi ibu peri atau guardian angel,
Apa yang terjadi jika Anda tidak bernafas lagi esok hari?

Bisa-bisa anak Anda ikut mati.

Sulit memang untuk tidak mengintervensi,
Ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih.

Apalagi menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi,
Jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri juga sebagai orangtua.

Tapi sadarilah,
hidup tidaklah mudah,
masalah akan selalu ada.
Dan mereka harus bisa bertahan.
Melewati hujan, badai, dan kesulitan,
yang kadang tidak bisa dihindari.

Selamat berjuang untuk mencetak pribadi yg kokoh dan mandiri

#parenting
#ellyrisman

Minggu, 23 Juli 2017

Mendidik Anak

Bagus untuk direnungkan

Saya mengenal seorang perempuan yang di mata saya, dia adalah ibu dan istri yang luar biasa baik. Pagi jam 03.00, dia sudah bangun untuk sholat tahajud dan tilawah Qur’an. Setelahnya mulai sibuk dengan cucian dan urusan dapur. Saat suami dan anak-anaknya bangun, makanan sudah siap di meja makan lengkap dengan bekal yang mereka bawa ke sekolah atau tempat kerja.

Rumahnya bersih, rapi jali. Kegiatan pengajian, sosial kemasyarakatan tak membuatnya abai urusan rumah tangga. Kebutuhan suami dan anak-anaknya tak pernah sedikitpun terlalaikan. Saya melihatnya sebagai ibu dan istri yang sempurna.

Tapi, sayangnya, kehidupannya sungguh sengsara justru setelah anak-anaknya dewasa. Ada yang menghamili anak orang dan berbuntut panjang. Keluarga dari anak yang dihamili ternyata justru memeras dan tak henti-hentinya menteror keluarga itu dengan berbagai cara.

Ada lagi anaknya yang sudah menikah dan tinggal serumah, tapi perilku anak dan menantunya itu sungguh tak tahu diuntung. Kesannya menjadikan ibunya itu sebagai pembantu. Dari mulai urusan makan sampai cuci pakaian, anak dan menantunya itu sama sekali tak mau mengurusnya sendiri.

Dan anak yang lain, yang sebenarnya paling ‘mendingan’ dibanding saudara-saudaranya itu, kuliahnya berantakan tanpa alasan yang jelas. Terakhir akhirnya menikah, namun hanya seumur jagung.

Kasus serupa juga menimpa seorang ibu yang lain, yang juga saya kenal baik. Anaknya ada yang gemar bersandiwara sehingga menimbulkan berbagai persoalan berat bahkan sampai memutuskan persaudaraan. Sementara anak lainnya tersangkut narkoba setelah putus sekolah karena bermasalah dengan teman sekolahnya.

Sungguh, saat itu saya sama sekali tak mengerti mengapa, seorang ibu yang baik dan bahkan sempurna harus diuji dengan anak-anak yang membuatnya sengsara dan terus-menerus menimbulkan masalah?

Setelah saya renungkan, dan setelah membaca berbagai pengetahuan parenting, akhirnya saya paham. Saya menemukan benang merahnya. Ya, kedua ibu yang sempurna itu sejak anak-anaknya kecil hingga dewasa hanya bersifat melayani, bukan mendidik.

Jadi semua keperluan anak-anaknya dicukupi tanpa membiarkan anak itu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sendiri semampunya. Saya masih ingat saat sempat tinggal beberapa waktu di rumah ibu itu. Hingga anak sekolah di SMA, sang ibu masih saja menyiapkan keperluan sekolah anaknya, mengambilkan makannya dan bahkan kadang menyuapinya. Sifat melayani dan memposisikan diri sebagai helper di setiap saat setiap waktu, bahkan kadang mengambil alih pekerjaan anak-anak karena dianggap lama dan kurang rapi, ternyata sangat berbahaya.

Anak-anak tak pernah belajar mandiri sama sekali. Semua dilakukan oleh ibunya. Sang ibu tak memberikan kesempatan anak mencoba, berlatih, meskipun kadang harus jatuh, sakit, terluka, sempat putus asa, marah dan sebagainya. Namun proses belajar dari kesulitan artifisial yang diberikan orang tua itulah yang sebenarnya jadi bekal mereka di kehidupan nanti. Sungguh, ketika kasih sayang yang direpresentasikan menjadi memanjakan, hanya akan menjadikan anak cacat sosial, gagap dalam kehidupan dan pada akhirnya menjadi benalu abadi bagi kedua orang tuanya.

Dan satu lagi kesamaan dari kedua ibu itu. Mereka sama-sama memiliki suami yang abai dengan anak-anaknya. Seorang ayah yang merasa sudah menunaikan kewajiban hanya dengan mencari nafkah saja. Dan menyerahkan semua urusan pendidikan ke ibu, tanpa mau campur tangan kecuali saat harus memarahi.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kedua kasus ini.

#copas dari: Estining 'Engky' Pamungkas & Efi R Suwandy

Kamis, 20 Juli 2017

KISAH SEORANG ANAK

Kisah Seorang Anak

Seorang anak, menelepon Ayahnya yang tinggal pisah Rumah dgnnya dan ibunya.
Pagi itu, ibunya sakit dan tidak bisa mengantar Anaknya ke sekolah seperti biasanya.
Jarak sekolahnya 1KM Dari rumahnya, dan si anak bertubuh lemah.
Pagi itu jam 6:00 si anak menelepon ayahnya:

Anak: ayah, antarkan aku sekolah.

Ayah: ibumu kemana?

Anak: ibu sakit ayah, tidak bisa mengantarkan            aku ke sekolah, Kali ini ayahlah antarkan aku ke sekolah.

Ayah: ayah tidak bisa, ayah nanti terlambat Ke kantor. Kamu naik Angkot saja atau ojek

Anak: ayah, uang ibu hanya tingal 10rb, ibu sakit, kami pun belum makan pagi, tak ada apa apa dirumah, kalau aku pakai untik ongkos, kasian ibu sakit belum makan, juga adik2 nanti makan apa ayah?

Ayah: ya sudah, kamu jalan kaki saja kesekolah, ayah juga dulu kesekolah jalan kaki.
Kamu anak laki laki harus kuat.

Anak: ya Sudah, terimakasih ayah.

Si anak mengakhiri teleponnya dengan ayahnya.
Diapusnya air mata di sudut matanya, lalu berbalik masuk kamar, ketika ibunya menatap wajahnya, dia tersenyum.

Ibu: apa kata ayahmu nak?

Anak: kata ayah iya ibu, ayah Kali ini yang antar aku kesekolah.

Ibu: baguslah nak, sekolahmu jauh, kamu akan kelelahan kalau harus berjalan kaki.
Doakan ibu lekas sembuh ya, biar besok ibu bisa antar kau kesekolah.

Anak: iya ibu, ibu tenang saja, ayah yg antar, ayah bilang aku tunggu didepan gang supaya cepat ibu.

Ibu: berangkatlah nak, belajar yg rajin yg semangat.

Anak: iya ibu

Tahun berganti tahun, kenangan itu tertanam dalam di ingatan si anak.
Dia sekolah sampai pasca sarjana dengan biaya beasiswa.
Setelah lulus dia bekerja di perusahaan asing dengan gaji yang besar.
Dengan penghasilannya, dia membiayai hidup ibunya, membantu menyekolahkan adik adiknya sampai sarjana.

Satu hari, saat di kantor ayahnya bertelepon.

Anak: ada apa ayah?

Ayah: nak, ayah sakit, tidak ada yang membantu mengantarkan ayah kerumah sakit

Anak: memang istri ayah kemana?

Ayah: sudah pergi nak sejak ayah sakit sakitan.

Anak: ayah, aku sedang kerja, ayah kerumah sakit pakai taxi saja.

Ayah: kenapa kamu begitu? Siapa yg akan urus pendaftran di RS dan lain2? Apakah supir taxi? Kamu anak ayah, masakan orangtua sakit kamu tidak Mau Bantu mengurus?

Anak: ayah, bukankah ayah yang mengajarkan aku, mengurus diri sendiri? Bukankah ayah yang mengajarkan aku bahwa pekerjaan lebih penting daripada istri sakit dan anak ?

Ayah, aku masih ingat, satu pagi aku menelpon ayah minta antarkan Ke sekolahku,waktu itu ibu sakit, ibu yg selalu antarakn kami anak2nya..yang mengurus kami seorang diri, namun ayah katakan aku pergi jalan kaki, tubuhku lemah, sekolahku jauh, namun ayah katakan anak laki laki harus kuat, dan ayah katakan ayahpun dulu berjalan kaki kesekolah, maka aku belajar bhwa krn ayah lakukan demikian maka akupun harus lakukan hal yg sama..saat aku sakitpun hanya ibu yang ada mengurusku, saat aku membutuhkan ayah, aku ingat kata kata ayah, anak laki laki harus kuat.

Ayah tau? Hari itu pertama x aku berbohong kepada ibu, aku katakan iya ayah yg akan antarkan aku kesekolah, dan meminta aku menunggu di depan gang.
Tp ayah tau? Aku jalan kaki seperti yg ayah suruh, di tengah jalan ibu menyusul dgn sepeda, ibu BS tau aku berbohong, dengan tubuh sakitnya ibu mengayuh sepeda mengantarkan aku kesekolah.

Ayah mengajarkan aku pekerjaan adalah yg utama, ayah mengajarkan aku kalau ayah saja bisa maka walau tubuhku lemah aku harus bisa.
Kalau ayah bisa ajarkan itu, maka ayah pun harus bisa.

Si ayah terdiam..sepi diseberang telepon.
Baru disadarinya betapa dalam luka yang di torehkannya di hati Anaknya.

Anak adalah didikan orangtua
Bgmn kita bersikap, memperlakukan mereka kita sama saja  sedang mengajarkan mereka bgmn memperlakukan kita kelak ketika kita tua dan renta.

Si anak Dosa?
Mungkin....
Si anak durhaka?
Barangkali....

Yang jelas ayahnya yg membuat Anaknya demikian.
Dan kelak orangtua membuat pertangung jwbnnya masing2 kepada sang Khalil, Si Empunya Anugerah yg di titipkan kepada msing2.

Menjadi orangtua bukan krn menanamkan Benih atau karena melahirkan.

Menjadi orangtua, karena mengasuh, mendidik, menyayangi, menberi waktu, perhatian, mengayomi, mencurahkan perhatian dan kasih sayang.

Menjadi orangtua, tidak ada kata pensiun..
Finishnya hanya dikematian.

Silahkan share jika dirasa bermanfaat

Mental Miskin Tetap Miskin

MENTAL MISKIN TETAP MISKIN

A: "Mas, apakah bisa bantu saya dapat pekerjaan"
B: "Oke, apa pekerjaan yang diinginkan?"

A: "Apa saja deh mas, yang penting kerja"
B: "Ok, mungkin saya bisa minta kolega saya untuk kamu jadi sales disana"

A: "Kalau bisa jangan yg suruh jualan deh mas, saya ga terlalu suka jualan"
B: "Oh gitu yah, oke...oke bentar yah, saya coba telp teman
saya di Jakarta".

Setelah menghubungi teman saya, sayapun memberitahu yang bersangkutan.

B: Ok, ...kata teman saya dia sedang butuh admin untuk input penjualan.

A: "Waduh pak, saya ga bisa komputer"
B: "Ok, mengapa ga bisnis saja"

A: "Wah, itu butuh modal pak, saya ga punya modal"
B: " Oke, kalau misalnya saya ada teman yang bisa membantumu bisnis dg modal kecil/tnpa modal?"

A: "Itu pasti MLM multi level yah?, kalau yang kayak gituan nggak deh pak,gak suka MLM saya pak" He..he...

Saya belum selesai menjelaskan namun rasanya mendadak kehilangan kesabaran untuk membantu orang ini.

Banyak orang susah bukan karena ga ada KESEMPATAN, namun masalahnya ada pada SIKAPNYA.

Teringat pesannya Jack Ma sang pendiri Alibaba, didunia ini orang yang paling sulit dilayani adalah orang BERMENTAL MISKIN.

Dikasih gratis "Saya mau diperalat apa nih?",
dikasih murah "Ini pasti barang jelek",
dikasih yang bagus "Ini pasti mahal",
dikasih yang modern, "Saya ga berpengalaman",
dikasih yang mudah, "Ah itu tradisional"

Hilangkan mental miskin...

Belajarlah untuk ber- MENTAL KAYA...
apapun harus dipelajari, dicoba, & dijalankan BUKA HATI LEBIH BESAR

tentunya dengan KEJUJURAN dan KESABARAN
Ini bagus buat bahan renungan :

"Orang bermental miskin adalah orang yang paling susah dilayani".

Diberi suatu peluang dengan gratis mereka pikir jebakan.
Ditawarkan investasi kecil mereka bilang hasilnya ga banyak.
Diajak investasi besar ga ada duit katanya.
Diajak melakukan hal2 baru merasa ga ada pengalaman.
Diajak jalanin bisnis tradisional
katanya berat persaingannya.
Diajak menjalankan model bisnis baru katanya Ribet
Diajak buka toko ngeluh ga bebas.
Diajak bisnis apa aja bilang ga punya keahlian.

Mereka punya kesamaan:
Nanya google, dengerin teman yg sama2 hopeless.
Mereka berpikir lebih banyak dari pada professor, namun bertindak lebih sedikit dari pada orang buta.

Tanyakan apa yg dapat mereka lakukan untuk hidup mereka, niscaya mereka ga bisa menjawab.

Orang bermental miskin gagal karena satu kesamaan sikap : "SEPANJANG HIDUP MEREKA HANYA MENUNGGU"

Kawan...
Benarkah kalian mau mengubah kehidupan kalian?
Teman2 Jack Ma semua menolak saat diajak kerjasama.
Semua menunggu hasil Jack Ma.

Namun saat dia sukses dgn Alibaba, teman2 nya sdh tak sanggup utk ikut menikmati karena saham Alibaba sdh tak terbeli oleh mereka.

Sebagian lainnya hanya bergumam : "Ya dia memang beda".
Ya... Jack Ma beda.

Bukan beda dari makanannya krn dia pun org biasa.
Bukan beda dari kecerdasan karena dia pun hanya guru bahasa inggris.

Tapi yg membedakan adalah ACTIONnya.
Saat kawan2 nya menunggu perubahan datang, Jack Ma melakukan sesuatu utk berubah.

Sampai kapan kita hanya menunggu dan tertinggal?
Lebih baik gagal dalam melakukan sesuatu.
Daripada tdk melakukan apa2 dalam hidup.

Kita bukan mayat hidup
Negative thinking going nowhere

Salam Sukses menembus batas perubahan!

Sumber : Rico Huang

Selasa, 18 Juli 2017

Test Calon Karyawan

Dikisahkan suatu waktu di Indonesia, ada sebuah perusahaan yang melakukan rekrutmen untuk sebuah posisi. Perusahaan tersebut perusahaan besar, yang sampai sekarang pun namanya masih cukup dikenal di Indonesia. Pelamar untuk posisi tersebut terbilang besar, sekitar 2000-an orang. Namun hanya 1 orang yang akhirnya diterima bekerja disana.

Dalam proses rekrutmen, perusahaan tersebut memberikan sebuah tes tertulis. Isi tes tertulisnya, adalah sebuah kasus untuk dijawab oleh calon karyawannya. Berikut kasus dalam tes tulis.

Anda sedang mengendarai motor ditengah malam yang hujan, ditengah jalan Anda melihat 3 orang sedang menunggu kedatangan angkot :

- Seorang nenek tua yang sangat lapar.
- Seorang dokter yang pernah menyelamatkan hidup Anda sebelumnya.
- Seseorang special yang selama ini menjadi idaman hati Anda.

Anda hanya bisa mengajak satu orang untuk dibonceng, siapakah yang akan Anda ajak ?
Dan jelaskan mengapa Anda melakukan itu!!

Jika Anda ikut dalam proses rekrutmen tersebut, kira-kira jawaban Apa yang akan Anda berikan?
Jangan melihat kebawah sebelum Anda memberikan jawaban Anda.

Serius, jawablah dulu, baru kita lihat jawaban yang diterima.

Dari 2000an pelamar & jawaban, hanya 1 yg diterima, Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis dengan singkat :

”Saya akan memberikan kunci motor saya kepada sang dokter dan meminta dia untuk membawa nenek tua tersebut untuk ditolong segera. Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal disana dengan sang idaman hati untuk menunggu angkot.”

Dan diterimanyalah ia serta langsung mendapat kualifikasi smart & brilliant employee

RENUNGAN:
Bagi saya pribadi, hikmah yang bisa saya petik adalah kita dapat melakukan sebuah efisiensi pekerjaan yang menyenangkan. Syaratnya hanyalah kita mau berkorban lebih untuk mendapatkan sesuatu lebih besar.